Add Me ON

Tampilkan postingan dengan label Laporan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Februari 2016

LAPORAN PENETAPAN KADAR LEMAK

PENETAPAN LEMAK DENGAN METODE EKSTRAKSI
SOXHLET
I.                  Tujuan Praktikum
1.1  Mahasiswa dapat melakukan analisis kadar lemak dalam suatu bahan pangan
1.2  Mahasiswa dapat mengetahui kadar lemak dalam bahan.
II.               Dasar teori
Lemak merupakan sekelompok besar molekul-molekul alam yang terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen meliputi asam lemak, malam, sterol, vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak (contohnya A, D, E, dan K), monogliserida, digliserida, fosfolipid, glikolipid, terpenoid (termasuk di dalamnya getah dan steroid) dan lain-lain. Lemak secara khusus menjadi sebutan bagi minyak hewani pada suhu ruang, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair, yang terdapat pada jaringan tubuh yang disebut adiposa (Anonim 2010).
Mengekstraksi lemak secara murni sangat sulit dilakukan, sebab pada waktu mengekstraksi lemak, akan terekstraksi pula zat-zat yang larut dalam lemak seperti sterol, phospholipid, asam lemak bebas, pigmen karotenoid, khlorofil, dan lain-lain. Pelarut yang digunakan harus bebas dari air agar bahan-bahan yang larut dalam air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak dan keaktifan pelarut tersebut menjadi berkurang. Pelarut ini seperti dietil eter, hexana, benzena, dan lain-lain.
Ada dua kelompok umum untuk mengekstraksi lemak yaitu metode ekstraksi kering dan metode ekstraksi basah. Metode kering pada ekstraksi lemak mempunyai prinsip bahwa mengeluarkan lemak dan zat yang terlarut dalam lemak tersebut dari sampel yang telah kering benar dengan menggunakan pelarut anyhidrous. Keuntungan dari dari metode kering ini, praktikum menjadi amat sederhana, bersifat universal, dan mempunyai ketepatan yang baik. Kelemahannya metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama, pelarut yang digunakan mudah terbakar dan adanya zat lain yang ikut terekstrak sebagai lemak.
Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Metode soxhlet ini dipilih karena pelarut yang digunakan lebih sedikit (efesiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu, sehingga pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang digunakan lebih cepat. Kerugian metode ini ialah pelarut yang digunakan harus mudah menguap dan hanya digunakan untuk ekstraksi senyawa yang tahan panas.
Menurut Lehninger (1982) lemak merupakan bagian dari lipid yang mengandung asam lemak jenuh bersifat padat. Lemak merupakan senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik nonpolar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), kloroform (CHCl3), benzena, hexana dan hidrokarbon lainnya. Lemak dapat larut dalam pelarut tersebut karena lemak  mempunyai polaritas yang sama dengan pelarut (Herlina  2002).
Dalam mengetahui kadar lemak yang terdapat di bahan pangan dapat dilakukan denganmengekstraksi lemak. Namun mengekstrak lemak secara murni sangat sulit dilakukan, sebab pada waktu mengekstraksi lemak, akan terekstraksi pula zat-zat yang larut dalam lemak seperti sterol, phospholipid, asam lemak bebas, pigmen karotenoid, khlorofil, dan lain-lain. Pelarut yang digunakan harus bebas dari air (pelarutanhydrous) agar bahan-bahan yang larut dalam air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak dan keaktivan pelarut tersebut menjadi berkurang.
            Sifat-sifat dari lemak dapat diidentifikasi dengan beberapa metode Terdapat dua metode untuk mengekstraksi lemak yaitu metode ekstraksi kering dan metode ekstraksi basah. Metode kering pada ekstraksi lemak mempunyai prinsip bahwa mengeluarkan lemak dan zat yang terlarut dalam lemak tersebut dari sampel yang telah kering benar dengan menggunakan pelarutanhydrous. Keuntungan dari dari metode kering ini, praktikum menjadi amat sederhana, bersifat universal dan mempunyai ketepatan yang baik. Kelemahannya metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama, pelarut yang digunakan mudah terbakar dan adanya zat lain yang ikut terekstrak sebagai lemak. Pada praktikum penetapan kadar lemak ini digunakan metode ekstraksi kering yaitu metode Soxhlet.
            Praktikum penetapan lemak kasar dan komponen lipid dilakukan dengan tujuan agar praktikan dapat mengetahui kadar lemak yang terkandung dalam suatu bahan pangan. Metode yang digunakan tergolong dalam metode ekstraksi kering yaitu metode Soxhlet
Metode Soxhlet
Metode Soxhlet termasuk jenis ekstraksi menggunakan pelarut semikontinu. Ekstraksi dengan pelarut semikontinu memenuhi ruang ekstraksi selama 5 sampai dengan 10 menit dan secara menyeluruh memenuhi sampel kemudian kembali ke tabung pendidihan. Kandungan lemak diukur melalui berat yang hilang dari contoh atau berat lemak yang dipindahkan. Metode ini menggunakan efek perendaman contoh dan tidak menyebabkan penyaluran. Walaupun begiru, metode ini memerlukan waktu yang lebih lama daripada metode kontinu (Nielsen 1998).
Prinsip Soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Soxhlet terdiri dari pengaduk atau granul anti-bumping, still pot (wadah penyuling,bypass sidearm, thimble selulosa, extraction liquid, syphon arm inlet, syphon arm outlet, expansion adapter, condenser (pendingin), cooling water in, dan cooling water out (Darmasih 1997).
Langkah-langkah dalam metode Soxhlet adalah : menimbang tabung pendidihan ; menuangkan eter anhydrous dalam tabung pendidihan, susun tabung pendidihan, tabung Soxhlet, dan kondensator ; ekstraksi dalam Soxhlet ; mengeringkan tabung pendidihan yang berisi lemak yang terekstraksi pada oven 1000C selama 30 menit ; didinginkan dalam desikator lalu ditimbang (Nielsen 1998).
Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang 5 sampai dengan 10 gram dan kemudian dibungkus atau ditempatkan dalam “Thimble” (selongsong tempat sampel) , di atas sampel ditutup dengan kapas. Pelarut yang digunakan adalah petroleum spiritus dengan titik didih 60 sampai dengan 80°C. Selanjutnya, labu kosong diisi butir batu didih. Fungsi batu didih ialah untuk meratakan panas. Setelah dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan petroleum spiritus 60 – 80°C sebanyak 175 ml. Digunakan petroleum spiritus karena kelarutan lemak pada pelarut organik. Thimbleyang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam Soxhlet. Soxhlet disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor . Alat pendingin disambungkan dengan Soxhlet. Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak kemudian mulai dipanaskan (Darmasih 1997).
Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati Soxhlet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondensor mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul dalamthimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju  labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan (Darmasih 1997).
Faktor yang Memengaruhi Kadar Lemak
Faktor-faktor yang memengaruhi laju ekstraksi adalah tipe persiapan sampel, waktu ekstraksi, kuantitas pelarut, suhu pelarut, dan tipe pelarut. Dibandingkan dengan cara maserasi, ekstraksi dengan Soxhlet memberikan hasil ekstrak yang lebih tinggi karena pada cara ini digunakan pemanasan yang diduga memperbaiki kelarutan ekstrak. Makin polar pelarut, bahan terekstrak yang dihasilkan tidak berbeda untuk kedua macam cara ekstraksi. Fenolat total yang tertinggi didapatkan pada proses ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat. Sifat antibakteri tertinggi terjadi pada ekstrak yang diperoleh dari ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat untuk ketiga macam bakteri uji Gram-positif. Semua ekstrak tidak menunjukkan daya hambat yang berarti pada semua bakteri uji Gram-negatif (Lucas dan David 1949).
Crackers
            Crackers adalah jenis biskuit yang terbuat dari adonan keras melalui proses fermentasi atau pemeraman, berbentuk pipih yang mengarah kepada rasa asin dan renyah, serta bila dipatahkan penampang potongannya berlapis-lapis. Crackers tanpa pemanis merupakan tipe yang paling populer yang dapat dikonsumsi sebagai pengganti roti dan penggunaanya lebih luas sebagai makanan diet. Ciri-ciri crackers yang baik adalah tekstur yang renyah, tidak keras apabila digigit, tidak hancur, dan mudah mencair apabila dikunyah. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan crackers dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu bahan-bahan yang berfungsi sebagai pengikat dan bahan pelembut tekstur.  Bahan pengikat atau pembentuk adonan yang kuat adalah tepung terigu, air, dan garam, sedangkan bahan-bahan yang berfungsi sebagai pelembut tekstur adalah gula, mentega, danleavening agent (baking powder) sebagai bahan pengembang (Manley 2000).
Tabel 1 Syarat mutu biskuit (SNI 01-2973-1992)
Komponen
Syarat Mutu
Air
Maks 5%
Protein
Min 9%
Lemak
Min 9.5%
Karbohidrat
Min 70%
Abu
Maks 1.5%
Logam berbahaya
Negatif
Serat kasar
Maks 0.5%
Kalori (per 100 gr)
Min 400
Jenis tepung
Terigu
Bau dan Rasa
Normal,tidak tengik
Warna
Normal
Sumber: Badan Standarisasi Nasional (1992)
III.           Peralatan dan bahan
3.1  alat destilasi : soxchlet lengkap dengan condenser dan labu lemak
3.2  alat pemanas listrik atau penangass uap
3.3  oven
3.4  timbangan analitik
3.5   bahan : susu bubuk full cream
3.6  Ethanol
IV.           Posedur percobaan
5.1 Mengambil labu lemak yang ukuran sesuai dengan alat ekstraksi soxhlet yang akan digunakan, keringkan dalam desikator dan timbang.
5.2  Menimbang 5 gram sampel dalam bentuk tepung langsung dalam saringan
       timbel, yang sesuai ukurannya, kemudian tutup dengan kapas wool yang bebas
       lemak sebagai alternative sampel dapat dibungkus dengan kertas saring.
5.3  Letakkan timbe atau kertas saring yang berisi sampel tersebut dalam alat destilasi
      ekstraksi soxhlet, kemudian pasang alat condenser diatasnya dan labu lemak      
      dibawahnya.
5.4  Menuangkan pelarut heksan atau dietil eter kedalam labu lemak secukupnya,
      sesuai dengan ukuran soxhlet yang digunakan.
5.5. Melakukan refluks selama minimum 5 jam sampai perlarut yang ada didalam
      labu lemak, tampung pelarutnya. Selanjutnya, labu lemak yang berisi lemak hasil
       ekstraksi dipanaskan dalam oven pada suhu 105 oC.
5.6  Setalah direaksikan sampai berat tetap dan dingninkan dalam desikator,
        menimbang labu beserta lemaknya tersebut berat lemak.
V.               Data pengamatan
·         Berat Sampel         :  5 gram
·         Berat Labu                        : 122 gram
Perlakuan
Pengamatan
Pada destilasi
Lemak didalam susu akan terekstrasi oleh pelarut lemak (ethanol).
Warna Lrutan jenuh/ keruh menandakan lemak terlarut pada ethanol.
Di diamkan lebih kurang 1 minggu
Gumpalan  lemak akan terlarut berwarna putih.
Pada alat destilasi
Pada suhu lebih kurang 78 oC (titik didih etanol) pelarut akan teuap lebih dahulu dan lemak nya akan tetap tinggal di dalam labu bundar.
Labu dioven dan ditimbang kerahnya
Massa konstantnya.
Ekstrakis soxhlet
Siklus
Waktu
1
2
3
4
5
50 : 50 : 50
11 : 30 : 00
13 : 40 : 25
16 : 03 : 50
14 : 01 : 00
VI.           Perhitungan
·         Berat Lemak = ( Berat rata-rata lemak setelah pengeringan ) –
( Berat Labu Bundar kosong )
= 123 gram – 122 gram
= 1 gram
·         % Lemak       =            
= 
= 20 %
VII.        Analisa percobaan
Pada percobaan penentuan lemak dengna metode ekstraksi soxhlet ini bertujuan agar dapat menganalisa kadar lemak dalam suatu bahan pangan dan mengetahui kadar lemak dalam bahan. Kami menggunakan bahan berupa susu  bubuk. Pelarutnya berupa ethanol 98% sebagai pelarutnya.
Adapun langkah awal yang kami lakukan adalah menimbang 5 gram susu full cream/ susu bubuk tersebut kemudian dimasukkan kedalam sifon. Kemudian ethanol dimasukkan kedalam labu bundar. Lalu direfluks. Tetapi tidak lupa batu didih juga dimaskukkan kedalam labu bundar, tujuannyan agar dapat menurunkan tekanan suhu larutan agar tidak terlalu tinggi. Perefluksan dilakukan sampai pelarut yang turun kembali ke labu bundar lagi ( 5X) dan berwarna jernih.
Proses yang terjadi pada percobaan ini ketika pelarut dididihkan, upaya naik melewati soxhlet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dididihkan melalui bagian luar condenser mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fasa cair. Kemudian menetes ke timbel. Pelarut melarutkann lemak didalam timbel, larutan sari ini terkumpul dalam timbel dan bila volemenya telah mencukupi, sari akan dialirkan menuju labu.
Adapun hasil ekstraksi yang didapat kemudian didiamkan selama  lebih kurang selama 1 minggu, tujuannya agar untuk mendapatkan lemak yang lebih banyak. Setelah satu minggu, larutan yang telah banyak menggumpal lemaknya didestilasi dan ditampung pelarutnya. Kemudian lemak yang telah didapat dipindahkan kedalam crussible untuk di oven dengan suhu 105 oC. Kemudian lemak yang telah kering, didinginkan kedalam desikator dan kemudian ditimbang. Berat lemak yang dihasilkan seberat 1 gram.
VIII.    Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1.      Proses ini dilakukan untuk mendapatkan kadar lemak dari suatu bahan pangan
 ( susu) dengan metode ekstraksi dan destilasi.
2.      Kadar lemak dapat dianalisa dengan menggunakan metode ekstraksi dengan peralatan soxhlet.
3.      Lemak bebas didestilasi dengan pelarut non polar salah satu contohnya ethanol melalui metode ekstraksi.
4.      Factor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi :
a.       Persiapan dan jenis sampel
b.      Waktu ekstraksi
c.       Kuantitas pelarut
d.      Suhu pelarut
e.       Tipe pelarut
5.      Berat lemak yang didapat : 1 gram
6.      % Lemak yang didapat : 20 %
Daftar Pustaka
Yuniar. 2014. Penuntun praktikum teknologi pengolahan pangan. POLSRI. Palembang
http://nuruszahro.blogspot.com/2013/10/laporan-analisa-lemak.html

Jumat, 05 Februari 2016

LAPORAN DIAGRAM TERNER

DIAGRAM TERNER
( KELARUTAN ZAT )
I.              TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat:
1.    Dapat mengetahui dan menentukan kelarutan suatu zat dalam suatu zat terlarut.
2.    Dapat menggambarkan phase diagram tiga komponen
3.    Dapat mengaplikasikan dalam menentukan komposisi kadar minyak pengering dalam zat
II.           ALAT DAN BAHAN KIMIA YANG DIGUNAKAN
-        Alat-alat yang digunakan :
1.      Erlenmeyer 100 ml
2.      Buret 50 ml
3.      Alumunium Foil
4.      Gelas kimia 250 ml
5.      Pipet ukur 10 ml, 25 ml
6.      Bola karet
7.      Pipet tetes
8.      Corong gelas
9.      Pengaduk
10.  Spatula
11.  Statif dan penjepit buret
12.  Botol aquadest
-        Bahan Kimia yang digunakan :
1.      Asam Asetat Glasial
2.      Kloroform
3.      Larutan standar NaOH
4.      Air Aquadest
5.      Indikator pp
III.        DASAR TEORI
Sistem tiga komponen aturan fase menghasilkan v = 5 - p. Bila terdapat satu fase,maka v = 4, oleh karenanya penggambaran secara geometrik yang lengkap memerlukan ruang berdimensi empat. Bila tekanan tetap, ruang tiga dimensi dapat digunakan. Bila suhu maupuntekanan tetap, maka v = 3 - P dan sistem dapat digambarkan dalam ruang dua dimensi: P = 1,v = 2. Bivarian, P = 2, v = 1. Unvarian; P = 3, v = 0, invarian.
Suatu sistem tiga komponen mempunyai dua pengubah komposisi yang bebas, sebutsaja X2 dan X3. Jadi komposisi suatu sistem tiga komponen dapat dialurkan dalam koordinatcartes dengan X2 pada salah satu sumbunya, dan X3 pada sumbu yang lain yang dibatasi olehgaris X2+X3=1. karena X itu tidak simetris terhadap ketiga komponen, biasanya, komposisidialurkan pada suatu segitiga sama sisi dengan tiap-tiap sudutnya menggambarkan suatukomponen murni, bagi suatu segitiga sama sisi, jumlah jarak dari seberang titik didalamsegitiga ketiga sisinya sama dengan tinggi segitiga tersebut. Jarak antara setiap sudut ketengah-tengah sisi yang berhadapan dibagi 100 bagian sesuai dengan komposisi dalam persen.Untuk memperoleh suatu titik tertentu dengan mengukur jarak terdekat ketiga sisi segitiga.
Zat cair yang hanya sebagian larut dalam cairan lainya, dapat dinaikan kelarutannyadengan menambahkan suatu zat cair yang berlainan dengan kedua zat cair yang lebih dahuludicairkan. Bila zat cair yang ketiga ini hanya larut dalam suatu zat cair yang terdahulu, maka biasanya kelarutan dari kedua zat cair yang terdahulu itu akan menjadi lebih kecil. Tetapi bilazat cair yang ketiga itu larut dalam kedua zat cair yang terdahulu, maka kelarutan dari keduazat cair yang terdahulu akan menjadi besar. Gejala ini dapat terlihat pada sistem kloroform-asam asetat- air.Bila asam asetat ditambahkan kedalam suatu campuran heterogen kloroform dan air  pada suhu tertentu, kelarutan kloroform dalam air akan bertambah, sehingga pada suatu ketikaakan menjadi homogen. Jumlah asam asetat yang harus ditambahkan untuk mencapai titik homogen (pada suhu tertentu tadi), tergantung dari komposisi campuran kloroform dalam air.
Gejala serupa akan terjadi bila sir ditambahkan kedalam campuran kholoroform dan asam asetat yang homogen, karena saling melarut. Pada penambahan jumlah air tertentu campuran yang tadinya homogen, akan menjadi heterogen, tergantung dari komposisi khloroform – asam asetat.
Diagram Tiga Sudut
Diagram tiga sudut atau diagram segitiga berbentuk segitiga sama sisi dimana setiapsudutnya ditempati komponen zat. Sisi-sisinya itu terbagi dalam ukuran yang menyatakan bagian 100% zat yang berada pada setiap sudutnya. Untuk menentukan letak titik dalamdiagram segitiga yang menggambarkan jumlah kadar dari masing-masing komponendilakukan sebagai berikut.
 
Pada salah satu sisinya ditentukan dua titik yang menggambarkan jumlah kadar zatdari masing-masing zat yang menduduki sudut pada kedua ujung sisi itu. Dari kedua titik ituditarik garis sejajar dengan sisi dihadapnya, titik dimana kedua garis itu menyilang,menggambarkan kadar masing-masing.
Tentukanlah titik yang menggambarkan jumlah kadar masing-masing komponen dari campuran 15,1% khlroform, 50. 2% asam asetat dan 34,7% air dalam segitiga.
Pada sisi khloroform asam asetat ditentukan titik 15,1 kadar khloroform dan titik 50,2% (kadar asam asetat). Dari titik 15,1  ditarik garis yang sejajar dengan sisi asam asetat air dan dari titik 50,2 ditarik sejajar dengan khloroform air. Titik silang dari kedua garis iniyaitu titik x menunjukkan jumlah kadar masing- masing kimponen campuran khloroform- asam asetat- air.
Contoh yang lain :
Titik 0 menyatakan komposisi 50% berat asam asetat, 10% berat vinil asetat dan 40% berat air campuran tersebut dua pasang sama sekali dapat bercampur dan satu pasang cairan sama sekali tidak dapat bercampur, diagram yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Bila air ditambahkan ke vinil asetat sepanjang garis bc, air mula-mula akan larut, dan terbentuk suatu larutan yang homogen. Namun begitu air ditambahkan, terjadi keadaan jenuh pada komposisi x, dan akan terjadi dua phase cair yaitu vini lasetat yang jenuh dengan air dan sedikit air yang jenuh oleh vini lasetat, yang komposisi z tidak berasosiasi, asosiasi terjadi karena terbentuknya ikatan – ikatan hidrogen.
IV.        CARA KERJA
A.    Pengumpulan data percobaan
1.      Membuat grafik kloroform dan asam asetat glasial dengan perbnadingan volume 10 ml sampai 20 ml.
2.      Memasukkan 2 gram khloroform(menghitung volumenya) dan 18 gram asam asetat glasial kedalam erlenmeyer dengan menggunakan buret 50 ml sebagai alat pengukurnya (diperoleh campuran 10% berat/berat khloroform dalam asetat glasial).
3.      Mentitrasi dengan menambahkan indikator pp terlebih dahulu, dititrasi  secara perlahan-lahan dengan air sampai permulaan timbulnya kekeruhan.
4.      Mencatat berapa banyak air yang digunakan serta suhu kamarnya.
5.      Mengulangi percobaan pada nomor 2, 3 dan 4 pada  konsenterasi khloroform 20 ; 30 ; 40 ; 50 ; 60 ; 70 dan 80%  (w/w).
B.     Memeriksa Kebenaran Data
1.      Memasukkan 2 gram campuran kloroform yang kira-kira sama komposisinya ke dalam corong pemisah dengan salah satu hasil pada nomor A.5
2.      Mengocok corong pemisah yang campuran dengan baik dan benar, kemudian dibiarkan campuran cairan tersebut beberapa saat agar terbentuk dua lapisan cairan.
3.      Menimbang Erlenmeyer agar diketahui berat isinya.
4.      Masing-masing larutan dititrasi dengan larutan standar naoh setelah dilakukan penambahan indikator phenolphatalin 3-4 tetes.
C.     Menghitung dari data percobaan
Hasil pada tahap B harus sama dengan hasil pengamatan tahap A.
V.           DATA PENGAMATAN
5.1   Penentuan Kurva Pencampuran
Konsentrasi
(%)
Kloroform
Asam Asetat Glasial
Air
(%)
gram
mL
gram
mL
10
20
30
40
50
60
70
80
2
4
6
8
10
12
14
16
1,35
2,7
4,05
5,4
6,75
8,1
9,4
10,8
18
16
14
12
10
8
6
4
17,1
15,23
13,3
11,43
9,52
7,61
5,7
3,8
22
10
6,5
4,4
1,5
1,2
1
0,4
5.2   Penentuan TilLine
Kloroform
Asam Asetat Glasial
Air
Gram
mL
%
Gram
mL
%
gram
mL
%
2
4
6
8
10
12
14
16
1,35
2,7
4,05
5,4
6,75
8,1
9,4
10,8
4,7
13,3
22,6
32,8
46,5
56,6
66,6
78,4
18
16
14
12
10
8
6
4
17,1
15,23
13,3
11,43
9,52
7,61
5,7
3,8
42,8
53,3
52,8
49,2
46,5
37,7
28,5
19,6
22
10
6,5
4,4
1,5
1,2
1
0,4
22
10
6,5
4,4
1,5
1,2
1
0,4
52,5
33,4
24,6
18
6,9
5,6
4,7
1,9
VI.        PERHITUNGAN
6.1   Komposisi kloroform 10%
        Kloroform       =          2          x100%  =  4,7%
                                      2+18+22
        Asetat              =          18        x100%  =  42,8%
                                      2+18+22
        Air                   =          22        x100%  =  52,5%
                                      2+18+22
6.2   Komposisi kloroform 20%
        Kloroform       =          4          x100%  =  13,3%
                                      4+16+10
        Asetat              =          16        x100%  =  53,3%
                                      4+16+10
        Air                   =          10        x100%  =  33,4%
                                      4+16+10
6.3   Komposisi kloroform 30%
        Kloroform       =          6          x100%  =  22,6%
                                      6+14+6,5
        Asetat              =          14        x100%  =  52,8%
                                      6+14+6,5
        Air                   =          6,5       x100%  =  52,5%
                                      6+14+6,5
6.4   Komposisi kloroform 40%
        Kloroform       =          8          x100%  =  32,8%
                                      8+12+4,4
        Asetat              =          12        x100%  =  49,2%
                                      8+12+4,4
        Air                   =          4,4       x100%  =  18%
                                      8+12+4,4
6.5   Komposisi kloroform 50%
        Kloroform       =          10        x100%  =  46,5%
                                     10+10+1,5
        Asetat              =          10        x100%  =  46,5%
                                     10+10+1,5
        Air                   =          1,5       x100%  =  6,9%
                                     10+10+1,5
6.6   Komposisi kloroform 60%
        Kloroform       =          12        x100%  =  56,6%
                                      12+8+1,2
        Asetat              =          8          x100%  =  37,7%
                                      12+8+1,2
        Air                   =          1,2       x100%  =  5,6%
                                      12+8+1,2
6.7   Komposisi kloroform 70%
        Kloroform       =          14        x100%  =  6,6%
                                      14+6+1
        Asetat              =          6          x100%  =  28,5%
                                      14+6+1
        Air                   =          1          x100%  =  4,7%
                                      14+6+1
6.8   Komposisi kloroform 80%
        Kloroform       =          16        x100%  =  78,4%
                                      16+4+0,4
        Asetat              =          4          x100%  =  19,6%
                                      16+4+0,4
        Air                   =          0,4       x100%  =  1,9%
                                      16+4+0,4
Tugas
1.      Apa yang dimaksud diagram terner?
2.      Jelaskan metode apa yang dilakukan untuk menentukan kalarutan zat?
3.      Apa yang dimaksud koordinat cartes?
4.      Tuliskan fungsi koordinat cartes?
5.      Apa saja komponen selama proses pelarutan?
Jawab
1.      Diagram terner adalah diagram suatu sistem cairan yang terdapat dalam campuran dau cairan yang membentuk kurva kelarutan (zat cair 3 komponen).
2.      Metode yang dilakukan selain menggunakan diagram terner yaitu metode hasil kali kelarutan. Metode hasil kali kelarutan yaitu metode menentukan kelarutan zat dari hasil kali konsentrasi ion-ion yang ada dalam larutan tersebut.
3.      Koordinat cartes adalah titik pada diagram Terner  yang ditentukan dari sistem/perpotongan garis persen massa dari ketiga komponen.
4.      Fungsi koordinat cartes adalah untuk menentukan titik ekivalen dari sistem larutan tiga komponen.
5.      Komponen selama proses pelarutan diantaranya :
-        Kloroform
-        Asam Asetat Glasial
-        Air
VII.     ANALISA PERCOBAAN
Pada percobaan ini dilakukan percobaan mengenai diagram terner sistem zat cairtiga komponen dengan metode titrasi. Dalam percobaan ini cairan yang dipergunakan adalah kloroform, aquadest, dan asam asetat glasial. Prinsip dasar dari percobaan ini adalah pemisahan suatu campuran dengan ekstraksi yang terdiri dari dua komponen cair yang saling larut dengan sempurna. Pemisahan dapat dilakukan dengan menggunakan kloroform dan asam asetat yang saling melarut dan kemudian dititrasi dengan zat yang tidak larut dengan campuran tersebut, yaitu air.
Dari percobaan, kloroform dan asam asetat mampu melarut dengan baik. Hal ini dikarenakan antara kloroform dan asam asetat dapat saling berikatan. Dimana kloroform dapat berikatan disekitar gugus alkil dari asam asetat yang bersifat non polar pada gugus CH3 nya.
Ketika titrasi dengan aquadest dilakukan, terjadi pemisahan antara campuran kloroform dengan asam asetat. Hal ini dikarenakan asam asetat membentuk ikatan hydrogen yang lebih kuat dengan molekul air pada bagian –OH dari gugus COOH asam asetatnya. Oleh karena itu, asam asetat yang awalnya berikatan dnegan kloroform akan terpisah dan berikatan dengan air. Hal ini disebabkan karena sifat kloroform yang tidak melarut dalam air sehingga kloroform yang mulanya berikatan dengan asam asetat akan terlepas dan terpisah membentuk dua larutan ternen terkonyugasi yang ditandai dengan terbentuk larutan keruh. Karena kemapuannya yang dapat melarut dengan air dan juga kloroform, maka asam asetat galsial dikenal sebagai pelarut yang bersifat semi-polar.
VIII.  KESIMPULAN
-        Prinsip dasar dari percobaan ini adalah pemisahan suatu campuran dengan ekstraksi dua komponen cair yang saling melarut dengan sempurna.
-        Asam asetat glasia adalah pelarut yang bersifat semi polar karena kemampuannya yang dapat melarut dengan kloroform dan air.
-        Semakin banyak asam asetat galsial yang dicampurkan dengan kloroform maka seamakin banyak pula air yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen.
DAFTAR PUSTAKA
-        Findly. “Practical Physical Chemistry” And Daniela,cs. (terjemahan).
-        Chemistpolban.blogspot.com/2011/06/praktikum-kelarutan-zat-diagram-terner.html?m=1